An die Freude, Libera me
Oleh: Cheril Vidia Nur Fitri
Silau, dingin, gelap,
Megah namun kosong.
Lagi-lagi a, b, dan c, ke mana jalannya?
Entah apa esensi dari rumitnya yang fana.
Lorong dingin yang senyap,
Telah menyerap esensi banyak jiwa.
Ke dalam buku-buku tebal bertumpuk,
Menarik jiwa-jiwa lain ke labirin yang mengutuk.
Mereka bernyanyi, laksana itulah tujuan hidup,
Meski, arti nyata tak tertanam di hati.
Yang tertarik akan menjadi solis,
Dikelilingi oleh paduan suara tanpa wajah yang apatis.
Ada yang berteriak hingga pita suara putus,
Ada yang menangis hingga mata pupus.
Sebab belenggu ketidaktahuan erat mengikat,
Memohon pintu pengetahuan terbuka cepat.
Senja itu,
Cahaya datang entah dari mana,
Menerangi labirin kegelapan yang tak bermakna,
Membebaskan belenggu dari leher dingin mereka.