Screenshot_20260926_085016
An die Freude, Libera me

An die Freude, Libera me

Oleh: Cheril Vidia Nur Fitri

 

Silau, dingin, gelap, 

Megah namun kosong. 

Lagi-lagi a, b, dan c, ke mana jalannya? 

Entah apa esensi dari rumitnya yang fana. 

 

Lorong dingin yang senyap, 

Telah menyerap esensi banyak jiwa. 

Ke dalam buku-buku tebal bertumpuk, 

Menarik jiwa-jiwa lain ke labirin yang mengutuk. 

 

Mereka bernyanyi, laksana itulah tujuan hidup, 

Meski, arti nyata tak tertanam di hati. 

Yang tertarik akan menjadi solis, 

Dikelilingi oleh paduan suara tanpa wajah yang apatis. 

 

Ada yang berteriak hingga pita suara putus, 

Ada yang menangis hingga mata pupus. 

Sebab belenggu ketidaktahuan erat mengikat, 

Memohon pintu pengetahuan terbuka cepat. 

 

Senja itu, 

Cahaya datang entah dari mana, 

Menerangi labirin kegelapan yang tak bermakna, 

Membebaskan belenggu dari leher dingin mereka. 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait