Luka Kemerdekaan
Oleh Titin Tri Suhartini
Angin kebebasan bersiul di atas tiang bendera,
Suaranya parau tertahan duka,
Kemerdekaan berdiri dengan tubuh gemetar,
Menatap tanah air yang kian tak ramah melebar.
Surat keputusan menjelma monster raksasa,
Mengunyah harapan rakyat dengan taringnya,
Meja-meja kantor menjelma benteng yang angkuh,
Membuat jiwa-jiwa kecil berlutut dan runtuh.
Stempel merah tertawa di atas kertas putih,
Menyaksikan air mata menetes penuh ratih,
Birokrasi memakai mahkota duri ketidakadilan,
Menjepit leher kebebasan yang kehilangan jalan.
Lembaran regulasi menari-nari dengan liar,
Merantai kaki-kaki buruh yang kelaparan biar,
Aturan menjelma labirin gelap tanpa ujung,
Tempat keadilan mati tersudut dan terpasung.
Senyum kemerdekaan kini tampak begitu pasi,
Tercekik oleh dasi-dasi para abdi negeri,
Kursi kekuasaan berbisik penuh keangkuhan,
Mengunci pintu kesejahteraan dari pemohon bantuan.
Ruang tunggu puskesmas dan dinas menangis lirih,
Mendengar janji manis yang memicu perih,
Berkas-berkas perkara membisu seribu bahasa,
Menimbun jeritan kaum yang tak punya kuasa.
Garuda meneteskan air mata di atas lambang,
Melihat kepak sayapnya kini terkekang
Kemerdekaann ini rupanya belum seutuhnya mandiri
masih terjajah oleh ego penguasa negeri sendiri
